Sherly mencibir. "Jadi, dia hanya seorang pengkhianat?" Katanya setelah mendengar tentang Monrest.

Dorna menatap Sherly dengan tajam. "Monrest bukan pengkhianat biasa. Dia adalah seorang ahli strategi dan manipulasi. Dia berhasil meyakinkan sebagian kultivator lainnya untuk membantunya membangun formasi baru di sekitar meteor, dengan alasan bahwa formasi itu akan membantu mereka keluar dari pulau ini. Tetapi formasi itu sebenarnya dirancang untuk membuat Monrest menyerap kekuatan meteor."

Maret mengangguk. "Ketika kebohongan Monrest terungkap, para kultivator lainnya bersatu melawannya. Pertarungan itu berlangsung selama bertahun-tahun, dan akhirnya, mereka berhasil menyegel Monrest di altar besar di pusat meteor. Tetapi harga yang harus mereka bayar sangat besar. Para kultivator kehilangan energi spiritual mereka sepenuhnya. Tanpa energi itu, mereka menjadi manusia biasa."

"Setelah pertarungan besar itu," lanjut Maret, "leluhur kami terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil. Mereka tidak lagi memiliki kekuatan untuk melindungi diri mereka sendiri. Keturunan mereka hidup sebagai pemburu, petani, dan nelayan, sementara pengetahuan tentang kultivasi perlahan hilang. Kami, suku Sinto, adalah salah satu keturunan mereka."

Leena menatap Maret dengan mata lebar. "Jadi kalian tidak memiliki cara untuk mendapatkan kekuatan itu lagi?"

Maret menggeleng. "Tidak ada yang tahu caranya. Pengetahuan itu hilang bersama para leluhur kami. Suku Monrest, yang didirikan oleh murid setia Monrest, terus berusaha membangkitkan leluhur mereka. Mereka percaya bahwa dengan membangkitkannya, mereka bisa menguasai meteor dan semua kekuatan yang tersisa di pulau ini. Dengan kekuatan itu mereka bisa pergi keluar dari tempat ini dan menguasai dunia lain."

Suasana di sekitar api unggun menjadi tegang. Sherly akhirnya angkat bicara. "Jadi, kalian hanya duduk di sini selama bertahun-tahun, membiarkan Suku Monrest melakukan apa yang mereka mau?"

Maret menatap Sherly dengan tajam, tetapi ada kesedihan di matanya. "Kami tidak punya pilihan. Tanpa kekuatan, kami hanya bisa bertahan. Itulah mengapa kami berharap seseorang, entah bagaimana, akan muncul untuk menghentikan mereka."

Lynx mengepalkan tangannya. Ia masih merasakan kekuatan aneh yang menjalar di tubuhnya sejak pertarungan terakhir. Ia belum sepenuhnya mengerti apa itu, tetapi ia tahu bahwa ia tidak bisa membiarkan Monrest terus berkuasa.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku," katanya akhirnya. "Tapi jika ada cara untuk melawan mereka, aku akan menemukannya. Dan aku akan membantu kalian."

Maret menatap Lynx dengan harapan baru di matanya. "Jika kau benar-benar memiliki sesuatu yang berbeda, mungkin itu adalah tanda bahwa waktu untuk melawan telah tiba."

Dorna mengangguk pelan. "Tetapi berhati-hatilah, anak muda. Kekuatan meteor itu telah menciptakan banyak kengerian. Jika kau tidak bisa mengendalikannya, kau bisa menjadi seperti Monrest."

Lynx, Leena, dan Sherly menyadari bahwa mereka memiliki peran yang lebih besar dalam pulau ini daripada yang mereka bayangkan. Dengan sejarah kelam yang terungkap, langkah pertama mereka adalah memahami kekuatan aneh yang mulai bangkit di tubuh Lynx.

Malam itu, api unggun yang menyala di tengah Kampung Sinto menjadi saksi bisu dari percakapan mendalam antara Lynx, Leena, Sherly, dan para tetua suku. Suasana di sekitar mereka hening, hanya ditemani suara kayu yang berderak terbakar. Penduduk yang duduk dalam lingkaran, mendengarkan cerita-cerita tentang masa lalu pulau tersebut, sambil mencoba memahami hubungan antara sejarah mereka dan ancaman dari Suku Monrest.

Saat jeda dalam cerita, Lynx yang sejak tadi diam, tiba-tiba angkat bicara. "Nenek Dorna," katanya, memecah keheningan. "Di sebelah barat pulau ini, aku menemukan tambang bijih besi. Kenapa kalian tidak memanfaatkannya? Bijih besi bisa digunakan untuk membuat senjata atau alat-alat lain yang membantu kehidupan."

Dorna memiringkan kepalanya, tampak bingung. "Bijih besi? Apa itu?"

Lynx terkejut. "Kalian tidak tahu apa itu bijih besi?" Ia berdiri dan mengeluarkan parang besi yang selama ini ia bawa. Ia mengangkatnya agar semua orang bisa melihat. "Benda ini," katanya sambil menunjuk parang tersebut, "terbuat dari bijih besi yang diolah."

Dorna memandangi parang itu dengan ekspresi kagum, seperti melihat sesuatu yang ajaib. "Kami tidak pernah memiliki sesuatu seperti itu," katanya pelan. "Kami hanya menggunakan batu, kayu, atau tulang untuk membuat alat dan senjata. Jika leluhur kami tahu tentang bijih besi, pengetahuan itu tidak diwariskan kepada kami."

Kepala Suku Maret menambahkan, "Mungkin para leluhur kami terlalu sibuk bertahan hidup setelah tiba di pulau ini. Tidak semua pengetahuan dari dunia asal mereka diwariskan. Kami hanya memiliki apa yang mereka ajarkan kepada kami untuk bertahan—berburu, bertani, dan melindungi diri dengan alat seadanya."

Karim menatap Lynx dengan rasa penasaran. "Jadi, kau bisa mengolah bijih besi?"

Lynx mengangguk. "Ya. Dunia asalku memiliki pengetahuan tentang logam ini. Kami menggunakan api untuk mencairkan bijih besi, lalu membentuknya menjadi alat seperti ini. Dengan senjata logam, kita bisa memiliki keunggulan melawan Suku Monrest."

Sherly, yang sejak tadi diam, mencibir. "Itu kalau kau punya waktu untuk membuatnya. Kita bahkan tidak tahu apakah kita bisa melindungi kampung ini dari serangan berikutnya."

Lynx mengabaikan komentar Sherly, lalu menatap Dorna. "Pulau ini memang penuh misteri. Pengetahuan yang hilang ini adalah salah satu buktinya."

Dorna mengangguk pelan. "Pulau ini terbentuk dari berbagai wilayah dari dimensi yang berbeda, tetapi tidak semua penghuni awal membawa atau mewariskan pengetahuan dari dunia mereka. Kami hanya tahu apa yang leluhur kami ajarkan. Selebihnya, kami belajar bertahan hidup dari alam."

Lynx menarik napas panjang, lalu mengingat sesuatu. "Ada hal lain yang ingin aku ceritakan," katanya. "Di tempat itu juga, di sebuah gua sebelah barat pulau, aku menemukan jenazah seseorang. Namanya Milo. Aku tahu namanya karena dia meninggalkan surat dan petunjuk di sana."

Dorna terkejut, wajahnya berubah serius. "Milo? Kau bilang Milo?"

Lynx mengangguk. "Aku tidak mengenalnya secara pribadi, tetapi dari surat-suratnya, dia tampak seperti seseorang yang terjebak di pulau ini. Apa kalian tahu siapa dia?"

Kepala Suku Maret menundukkan kepalanya, tampak berpikir dalam. Setelah beberapa saat, ia berkata, "Milo pernah datang ke kampung kami bertahun-tahun yang lalu. Dia adalah seorang pendatang, seperti kalian. Dia berbicara tentang dunia asalnya, dunia yang penuh dengan makhluk-makhluk mutasi dan teknologi yang tidak bisa kami pahami. Tapi suatu hari, dia menghilang begitu saja. Kami pikir dia telah menemukan jalan keluar dari pulau ini. Ternyata, dia sudah meninggal."

Leena menatap Maret dengan rasa ingin tahu. "Apakah Milo berasal dari dunia kultivasi, seperti leluhur kalian?"

Maret menggeleng. "Tidak. Dunia asalnya sangat berbeda. Milo pernah mengatakan bahwa dia terlempar ke pulau ini karena sebuah alat teknologi yang tidak sengaja dia aktifkan saat melarikan diri. Dunia asalnya sedang berada dalam situasi kacau karena banyak makhluk mutasi yang muncul akibat eksperimen mereka sendiri."

Dorna menambahkan, "Milo juga bercerita bahwa di dunia asalnya, dia dan rekannya sedang mengembangkan sesuatu yang mereka sebut pil kekuatan. Pil itu bisa memberikan kekuatan luar biasa, tetapi hanya orang tertentu yang bisa menggunakannya. Milo mengatakan dia mencuri pil itu karena dia takut akan disalahgunakan."

Leena terkejut. "Jadi, pil itu yang dia bawa ke pulau ini?"

Maret mengangguk. "Dia mencuri pil itu karena ingin melindunginya dari pihak yang ingin menggunakannya untuk tujuan jahat. Dia bahkan berkata ingin membawa pil itu kepada putrinya, tetapi dia tidak pernah bisa kembali."

Lynx mengepalkan tangan, ingatannya kembali pada pil misterius yang dia dapatkan di gua. "Itu pil yang aku temukan di gua. Aku menggunakannya saat aku terluka parah."

Dorna dan Maret saling memandang, tampak terkejut. "Kau memakannya?" tanya Dorna dengan suara bergetar.

"Ya," jawab Lynx. "Dan sejak saat itu, tubuhku berubah. Aku bisa merasakan energi mengalir ke tubuhku, terutama saat aku terkena sinar matahari. Itu tidak seperti apa pun yang pernah kurasakan sebelumnya."

Maret mengangguk pelan. "Leluhur kami selalu mengatakan bahwa setelah tiba di pulau ini, mereka kehilangan kemampuan untuk menyerap energi spiritual. Itu sebabnya kami percaya bahwa pulau ini tidak memiliki kekuatan seperti di dunia asal kami. Tapi kenyataannya, kau justru bisa menyerap energi—mungkin karena pil itu."

Leena menatap Lynx dengan rasa penasaran dan kekhawatiran. "Jadi, pil itu memberimu kemampuan untuk menyerap energi di pulau ini?"

Dorna menghela napas panjang. "Milo benar-benar membawa sesuatu yang luar biasa. Tetapi kita tidak tahu apakah efek pil itu akan bertahan lama atau memiliki konsekuensi lain."

Lynx menatap ke arah api unggun. Ia tidak tahu apa yang menunggunya di masa depan, tetapi satu hal jelas: kekuatan yang ia miliki sekarang adalah harapan bagi mereka semua.

Malam itu, mereka semua duduk dalam keheningan, merenungkan cerita tentang Milo, meteor, dan pulau yang penuh misteri ini. Lynx menyadari bahwa dia tidak hanya memiliki kekuatan yang baru ditemukan, tetapi juga tanggung jawab besar untuk melindungi orang-orang di pulau ini dari ancaman Suku Monrest.

Lynx lalu menatap Kepala Suku Maret dengan penuh rasa ingin tahu. Api unggun yang menyala di tengah kampung Sinto memancarkan bayangan di wajah-wajah lelah penduduk, namun percakapan mereka terus berlanjut.

"Kepala Suku," kata Lynx perlahan, "kalau Monrest begitu kuat, bagaimana dengan suku-suku lain? Mengapa mereka tidak bersatu melawan Monrest?"

Maret menghela napas panjang. Matanya memandang penduduk kampung yang duduk di sekeliling api, seolah-olah ingin memastikan semua orang mendengar.

"Dulu," ia memulai, "para leluhur kita berasal dari kelompok yang sama—orang-orang yang melarikan diri dari kehancuran di dunia asal mereka dan terjebak di pulau ini. Awalnya, mereka hidup bersama dan bekerja sama untuk bertahan hidup. Namun, seiring waktu, garis keturunan mereka mulai bercabang. Ketika Monrest mulai muncul sebagai ancaman, suku leluhur kita terpecah. Sebagian dari mereka dikhianati oleh leluhur Suku Monrest, yang membentuk kelompok mereka sendiri untuk menguasai pulau ini."

Lynx mengangguk perlahan. "Dan itu sebabnya sekarang suku-suku lain terpecah belah?"

Maret mengangguk. "Ya. Ada dendam lama dan rasa tidak percaya di antara kami. Suku-suku lain melihat satu sama lain sebagai saingan, bukan sekutu. Hasil buruan yang semakin langka dan ancaman dari Monrest semakin memperdalam perpecahan itu."


